Premiro Logo
Artikel

8 Cara mengatur keuangan dalam rumah tangga

Mengatur keuangan rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi salah satu hal penting yang perlu kamu pelajari dan terapkan. Terutama di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, ener...

8 Cara mengatur keuangan dalam rumah tangga

Mengatur keuangan rumah tangga di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi salah satu hal penting yang perlu kamu pelajari dan terapkan. Terutama di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, energi, dan layanan, keuangan keluarga bisa dengan mudah terganggu jika tidak dikelola secara cermat.

Salah satu hal yang sering dilupakan dalam mengatur keuangan keluarga adalah pembagian peran yang jelas antara suami dan istri. Misalnya, siapa yang mengatur pembayaran tagihan? Siapa yang bertugas mencatat pengeluaran? Siapa yang bertanggung jawab atas tabungan pendidikan anak?

Membuat perjanjian bersama soal peranan ini bukan hanya mencegah konflik, tapi juga membantu pengelolaan keuangan menjadi lebih teratur. 

Langkah selanjutnya dalam cara mengatur keuangan rumah tangga adalah membuat anggaran bulanan. Anggaran ini tidak hanya mencakup pengeluaran rutin, tapi juga menghitung kemungkinan kenaikan harga.

Mulailah dengan mencatat semua sumber pendapatan, lalu kelompokkan pengeluaran menjadi beberapa kategori seperti kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, hiburan, dan tabungan. Dalam hal ini, fleksibilitas jadi hal yang penting karena harga bisa berubah sewaktu-waktu.

Sediakan ruang ekstra saat menghitung anggaran, untuk menyesuaikan jika ada keperluan mendesak atau terjadi kenaikan biaya secara tiba-tiba, seperti token listrik atau bahan pokok. Lebih baik lagi, gunakan aplikasi pengelola keuangan sehingga pencatatan lebih rapi dan mudah dipantau.

Sering kali, kamu tergoda untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Di tengah kenaikan harga, membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi hal krusial. Fokuskan pengeluaran pada hal yang benar-benar penting bagi keberlangsungan rumah tangga, seperti makanan, kesehatan, dan pendidikan.

Tidak hanya itu, cobalah menerapkan prinsip 50-30-20, yaitu 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Namun, dalam masa krisis atau ketika harga naik drastis, kamu bisa menyesuaikan porsi keinginan menjadi lebih kecil demi menjaga kestabilan keuangan keluarga.

Cara mengatur keuangan rumah tangga berikutnya adalah mengurangi belanja yang tidak perlu. Lakukan pengecekan pengeluaran rutin, seperti layanan streaming musik dan film, atau membeli makan di luar. Meski terlihat kecil, pengeluaran ini bisa menjadi beban besar jika dikumpulkan setiap bulan.

Pilih satu atau dua layanan hiburan saja yang paling sering digunakan dan batasi frekuensi makan di luar rumah. Hal tersebut karena memasak sendiri di rumah bisa menjadi solusi yang tidak hanya hemat, tetapi juga lebih sehat.

Selain itu, pertimbangkan untuk menggunakan transportasi umum atau bersepeda jika memungkinkan. Mobilitas menggunakan transportasi umum bisa menekan pengeluaran untuk membeli bahan bakar.

Dana darurat sangat penting untuk melindungi keuangan rumah tangga dari kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, perbaikan rumah, atau kebutuhan medis mendesak. Idealnya, dana darurat minimal setara dengan 3–6 bulan biaya hidup keluarga.

Selain dana darurat, kamu juga perlu memiliki perlindungan kesehatan yang memadai. Biaya kesehatan yang mahal bisa menggerus tabungan dalam waktu singkat jika tidak ditangani dengan tepat. Di sinilah peran asuransi kesehatan menjadi sangat penting sebagai perlindungan finansial jangka panjang.

Implementasi cara mengatur keuangan rumah tangga sebaiknya tidak menjadi beban satu orang saja. Libatkan pasangan dan anak-anak sesuai dengan usia mereka. Edukasi anak tentang pentingnya menabung atau memilih barang dengan bijak bisa ditanamkan sejak dini.

Ketika seluruh anggota keluarga memahami kondisi keuangan, akan lebih mudah untuk mencapai tujuan bersama. Kamu bisa membuat rapat keluarga singkat setiap awal bulan untuk mengevaluasi anggaran dan mendiskusikan rencana pengeluaran. Ini juga akan mempererat komunikasi dan membuat semua orang merasa punya tanggung jawab terhadap kondisi keuangan keluarga.

Setiap orang membawa kebiasaan finansial dari keluarga masing-masing, dan hal tersebut bisa berbenturan dalam rumah tangga, apalagi jika kamu sebagai pasangan suami istri baru. Misalnya, satu pihak terbiasa membeli barang sesuai kebutuhan, sedangkan pihak lainnya terbiasa hidup dengan standar hidup yang lebih tinggi. Kebiasaan ini sering kali dianggap sepele, padahal tanpa disadari bisa jadi sumber stres finansial.

Untuk itu, cobalah untuk diskusikan bersama, apakah gaya hidup keluarga saat ini mencerminkan kemampuan finansial keluarga atau hanya meniru kebiasaan masa kecil? Kamu juga bisa berkompromi untuk membentuk gaya hidup keluarga baru yang lebih realistis. 

Undangan pernikahan, arisan, acara keluarga besar, hingga ulang tahun teman anak-anak, tanpa disadari bisa menyedot dana jika tidak dianggarkan. Meskipun pengeluaran sosial ini sifatnya tidak rutin, tapi pasti muncul.

Untuk itu, sisihkan pos khusus setiap bulannya dalam jumlah yang cukup dan tidak harus besar, sehingga jika kamu perlu mengeluarkan dana untuk kebutuhan sosial, bisa diambil dari dana tersebut. 

Jelajahi produk asuransi dari kami

  • Properti & Harta Benda

    Kerusakan akibat kebakaran, bencana alam, dan pencurian
  • Asuransi Kesehatan UKM

    Perlindungan biaya medis untuk rawat inap, rawat jalan, dan kondisi kritis